Kamu Bisa Menerima Kritikan Berarti Kamu Bisa Sukses!


Menerima kritikan dengan lapang dada merupakan salah satu problem yang sering kita temui. Di satu sisi, kita tahu bahwa kritikan adalah salah satu sarana untuk mengevaluasi diri. Tapi di sisi lain, kita cenderung nggak suka sama kritikan. Apalagi kalau kritik tersebut datang dari orang yang kurang cocok sama kita.

Memang sih, secara alami diri kita akan merespon kritikan dengan mekanisme pertahanan diri alias defensif. Otak kita punya respon fight or flight. That's why, ketika seseorang dikritik, responnya seringkali mengabaikan atau malah nyerang balik pengkritik.

Padahal, banyak lho, manfaat yang bisa kita ambil dari suatu kritikan. Selain bisa untuk introspeksi, menerima kritik juga udah pasti melatih kita untuk sabar serta mengendalikan kecenderungan defensif. Kerennya lagi, kritikan justu bermanfaat untuk kesuksesan kita. Ini buktinya!

Menerima kritikan akan membantu kita "naik level"


Kita sepakat bahwa meraih cita-cita itu nggak instan. Untuk mewujudkannya, kita harus melewati berbagai tahapan. Ibarat main game, kita perlu menaklukkan setiap level supaya bisa sampai finish.

Tapi, gimana caranya supaya kita tahu sudah sampai level berapakah diri kita? Apakah kemampuan kita sudah sangat canggih atau masih level basic? Trus, apa aja sih, yang perlu kita lakukan supaya bisa naik level?

Semua pertanyaan di atas bisa kita dapat jawabannya melalui kritikan. Pada dasarnya, kita butuh feedback dari setiap kerja keras kita, supaya kita tahu apakah yang kita lakukan sudah benar. Kritikan dari orang yang ahli di bidangnya adalah hal berharga yang mestinya bisa kita syukuri. Dan seringkali, orang lain lah yang bisa melihat celah kekurangan yang nggak kita temukan, lho.

Pujian nggak membawa kita ke mana-mana




Kalau kita coba lihat cerita-cerita dari para orang sukses, hampir semuanya menunjukkan satu karakteristik yang sama, yaitu tahan kritikan. Thomas Alva Edison contohnya, dia nggak menyerah, bahkan katanya melakukan percobaan hingga 9,999 kali.



Kritik yang membangun mungkin nggak bisa kita dapatkan dari setiap orang. Perlu keberanian untuk mengkritik sebab kritik masih dipandang sebagai pemantik konflik.



Awal-awal mendapat kritik, wajar kalau kita sedikit defensif. Pastinya ada rasa ingin dihargai dan dipuji atas pencapaian sejauh ini. Meskipun dikiritik itu rasanya nggak enak, jangan sampai itu membuat kita jadi pribadi yang tertutup sama kritikan.



Ia sukses karena mereka tidak mencari pujian dari orang lain. Kritik pada dasarnya adalah lawan dari pujian. Kita akan lelah dengan semua usaha kita kalau hanya sibuk mencari pujian ataupun pengakuan dari orang lain. Sebaliknya, kritik dapat kita pertimbangkan untuk kemajuan diri kita.

Ada kritik = ada orang-orang yang mendukung

Sebenarnya dari kritikan positif yang kita terima, kita jadi tahu siapa orang-orang yang memang peduli dengan kita. Mereka yang ingin melihat kita maju adalah orang yang nggak bosan-bosannya memberi masukan ke kita, seperti sahabat-sahabat kita, contohnya.

Kalau sudah begini, justru jangan menghindar dari orang-orang ini. Karena siapa tahu mereka bisa berperan besar dalam usaha meraih cita-citamu.

Kritikan merupakan pecut supaya kita lebih maju

Kita bisa memandang kritik sebagai cambuk supaya kita nggak stuck. Untuk maju, kita juga butuh tekanan dari pihak lain dan tekanan tersebut hadir dalam bentuk kritik. Jadi, setelah menerima kritik, saatnya untuk membuktikan bahwa kita bisa kok, menjadi lebih baik lagi.
Powered by Blogger.